Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Jumat, 29 Juni 2012

Pohon Pohon Kecil




Hari ini kuharap sesuai rencana. Tuhan mendengar doaku karena hari ini matahari menunjukkan dirinya di langit. Hari ini cerah.
Rencanaku adalah bermain bersama anak-anak itu lalu jalan-jalan mengamati alam, walaupun yang kusebut alam itu hanya lingkungan sekitar tenda-tenda pengungsian.
Sejak umur lima belas tahun negaraku terjadi perang saudara. Banyak yang tewas akibat perang ini. Kakek, nenek, para laki-laki dewasa, anak-anak seumuranku, wanita, hingga menyisakan anak-anak malang tak berdosa, ditinggal kasih sayang orangtua dan tertinggal ilmu. Bangunan-bangunan hancur, rumah, masjid, sekolah. Tak ada yang bisa dibawa ketika bom tiba-tiba datang dan menghancurkan segalanya. Yang terpikir hanyalah menyelamatkan diri sendiri. Aku sendiri yang mengalaminya. Saat tahu bom akan mendekat, aku segera keluar rumah dan lari menjauh. Ketika sampai di tempat aman, aku baru menyadari, keluargaku tak ada bersamaku. Saat api padam, aku berlari menuju rumah yang hanya menyisakan puing-puing. Disana tergeletak mayat ibu dan adikku. Sementara ayahku mungkin sudah berlari entah kemana dan tidak bersamaku. Di depan mayat ibu aku menangis. Sekuat apapun laki-laki, ia akan menangis berlutut ketika orang yang dicintainya meninggalkannya.
Ibuku sangat menghargai ilmu walaupun ia tak bias membaca. Ibu sangat senang melihat angka. Ia bilang aku pintar. Walaupun di sekolah aku hanya dapat peringkat sepuluh. Peringkat sepuluh yang jujur karena aku benci berbohong. Dan aku bangga dengan itu. Ayah dan ibu juga bangga. Mereka selalu mengingatkanku untuk tidak saja mencari ilmu, tapi juga mengamalkannya. Karenanya, aku ingin jadi guru suatu saat.
Tapi lihatlah sekarang, aku sudah jadi guru. Sejak umur enam belas tahun aku hidup di tenda pengungsian. Aku melihat anak-anak kecil yang periang, semangat, tapi tak bias membaca. Kuputuskan untuk mendekati anak-anak kecil itu, bermain, dan sedikit demi sedikit kuajarkan membaca. Sulit awalnya ketika mereka mudah bosan dan memilih untuk bermain bola. Sekarang, sebagian mereka bahkan sudah pandai menghitung dan menulis.
Anak-anak ini semakin bertambah seiring bertambahnya daerah-daerah yang hancur akibat perang. Aku jadi punya pekerjaan tetap, guru tenda pengungsian. Anak-anak memanggilku ‘kakak’, sehingga orang-orang juga memanggilku ‘kakak’ tanpa tahu namaku. Walaupun hanya bersekolah sampai tingkat menengah pertama, aku bangga dapt berguna dan mengamalkan ilmu yang aku ketahui pada orang lain. Tidak ada orang dewasa lain yang dapat diserahkan tugas sepertiku. Saat keadaan perang seperti ini, para laki-laki dewasa dikirim ke medan perang. Saat itulah keluarga-keluarga yang beruntung masih hidup melepas ayah, suami, saudaranya ke medan perang. Itu artinya keluarganya tidak akan mendapat kabarnya lagi sebelum perang berakhir. Tapi bagaimana jika lelaki itu ternyata tewas dan baru diketahui ketika perang berakhir?
Aku benci peperangan. Tidak bisakah para pemimpin itu mengerti bahwa di daerah kekuasaannya yang seharusnya ia lindungi terdapat ratusan keluarga tanpa ayah atau tanpa ibu atau hanya menyisakan anak-anak malang yang tersisa? Aku bertekad akan berjuang demi Negara dengan ilmu. Mengajarkan ilmu tanpa pamrih adalah jawaban yang tepat. Menjadi guru yang tak hanya mengajar, tetapi juga melindungi adalah guru yang sebenarnya. Aku akan mengajarkan anak-anak ini ilmu untuk masa depan mereka. Aku sudah berjanji.
***
Anak-anak miskin memang memiliki semangat paling besar. Tim-ku kalah 1-0 dengan anak-anak kecil kurus tapi cerdas ini. Lalu kami semua berteduh di bawah pohon besar. Tempat biasa kami berkumpul untuk belajar.
                “kak, habis ini kita melakukan apa?” Tanya bocah yang berkulit hitam.
                “belajar matematika saja kak, aku belum ngerti yang kemarin.. “
“ah kau ini, kemarin sudah matematika, sekarang ilmu alam.. ya kan kak?”
Aku tersenyum, “iya, sekarang kita jalan-jalan, apa yang akan kita pelajari di ilmu alam sekarang? Tanaman?” tanyaku pada mereka.
“tentang kupu-kupu saja kak!” seorang gadis kecil menjawab.
“iya ya, kita belum beljar tentang serangga kan?” tanyaku lagi.
                Anak anak menggeleng. “kalau begitu kita jalan sambil mencari serangga apa yang akan kita pelajari, ayo!” ajakku.
                Hari itu sangat cerah. Semangat anak anak ini belum dan tak ada habisnya. Aku kagum bagaimana cara mereka mempelajari ilmu. Masing-masing punya karakteristik yang berbeda dan saling melengkapi. Indah sekali.
***
                Malam masih belum berakhir ketik kudengar teriakan seorang anak kecil dibelakangku, “kak! Kakak mau kemana?”.  Kudengar juga beberapa pasang kaki kecil berlari menghampiriku. Aku berhenti berjalan dan menoleh pada anak-anak itu. Wajah wajah kecil bertubuh kurus. Anak-anak melarat yang punya semangat tinggi. Taak pernah kulihat wajah mereka bersedih seperti ini kecuali saat kala pertama mereka tinggal di tenda pengungsian. Tapi sekarang aku melihatnya lagi, untuk terakhir kalinya.
                Aku berlutut menymakan tinggiku dengan mereka. Aku tetap berusaha tersenyum.
                “kakak diberi amanah untuk pergi ke medan perang” kataku.
                “kenapa kakak pergi kesana? Nanti yang mengajari kami siapa? Taanya gadis kecil berjilbab.
                “umur kakak sudah mencukupi untuk diberi tugas berjuang di medan perang. Doakan saja agar kakak selamat. Kakak berjanji kalau perang berakhir dan kakak selamat, kakak akan pulang kesini bertemu kalian dan mengajar kalian lagi. Sementara ini kalian pasti bisa belajar bersama, kakak akan berdoa agar kalian cepat mendapat guru pengganti kakak.” Kataku pada mereka.
                Mereka diam. Tiba-tiba seorang anak lelaki kecil menangis, lalu memelukku. Aku membalas memeluknya. Satu persatu anak anak itu menangis dan ikut memelukku. Kurasakan kehangatan yang indah. Rasa hangat yang dapat ditemukan jika bersama keluarga. Mereka adik-adikku yang aku lindungi, sayangi dan aku kasihi. Mereka adalah pohon-pohon kecil. Butuh air dan pupuk yng cukup, lalu kita akan dibuat terkejut setiap hari dengan tumbuhnya daun-daun, batang, dan  bunga-bunga mereka. Dan ketika besar, mereka adalah sumber kehidupan yang semua makhluk membutuhkannya. Mereka adalah anak-anak kecil pengganti adik kandungku, ayah, dan ibu.
                Aku benar-benar berusaha untuk tidak menangis. Tetapi pelukan mereka benar-benar erat dan tulus. Dengan lembut dan perlahan, aku melepas pelukan mereka.
                “kakak jangan sakit ya,” kata anak yang paling kecil.
                “nanti kakak ngajar lagi ya” kata anak yang paling besar.
                Lalu anak-anak lain tak mau kalah.
                “kakak tenang sajaa, Allah selalu temani kakak!” aku ingat kata-kata itu, selalu kuucapkan pada mereka setiap malam menjelang tidur.
                “kalau pulang cerita kisah kakak pada kami ya!”
                “jangan lupa main bola kak!”
                Aku hanya menjawab kata-kata mereka dengan anggukan dan senyuman. Kulambaikan tanganku kepada mereka.
                “kakak pergi ya! Assalamualaikum!”
                Lalu ku berpaling, kembali menatap jalan yang harus kulalui. Setiap langkah kaki yang terus kuambil, kuputar kembali film memori yang kulalui bersama anak-anak pengungsian. Lalu aku bandingkan dengan film baru yang akan kujalani. Besarnya kasih dari anak-anak itu membuatku akhirnya menangis.
                Mulai dari sinilah hidupku akan berubah. Menjalani kehidupan di medan perang. Mungkin inilah yang dirasakan pada setiap laki-laki yang telah dikirim sebelum aku. Antara mati atau hidup menjdi pilihan yang sudah di depan mata.
                Aku tetap pada tujuanku. Menghentikan perang daan mendamaikan kembali negeri kami yang bertahun tahun terjadi perang saudara. Aku tetap akan belajar dan mengajar. Aku tahu, satu-saatunya cara mendamaikan negeri ini bukanlah dengn peperangan, tetapi dengan ilmu, kesadaran dari diri sendiri, dan keputusan Tuhan. Aku akan membangun negeri ini dengan ilmu. Aku sudah berjanji.

THE END~~
Thanks For Read It! ^w^